Seni & Budaya
Cerita & Legenda
Bandung
Kuliner
Wisata
Home » Bandung, Featured, Geografi, Wisata

Taman Hutan Raya Djuanda, Kesejukan Hutan di Tengah Kota

Submitted by on 23/02/2014 – 12:04 4 Comments
Share Button

Bagi Anda yang sedang berada di kota Bandung dan merasa bosan jalan-jalan di perkotaan, hutan kota yang sejuk dan menyegarkan ini layak untuk dikunjungi. Taman Hutan Raya (Tahura) Ir. H. Djuanda merupakan kawasan konservasi terpadu antara alam sekunder dengan hutan tanaman jenis Pinus (Pinus merkusil), membentang mulai dari Curug Dago, Dago Pakar sampai Maribaya, Lembang.

Patung Ir. H. Djuanda

Patung Ir. H. Djuanda

Tahura Djuanda

Tahura Djuanda, Sumber gambar : klik di sini

Kawasan konservasi seluas 530 hektar ini memiliki tingkat aksesibilitas yang tinggi dan dapat ditempuh dari berbagai jalur jalan. Untuk bisa sampai tepat di depan gerbang tiket masuk, bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti motor, mobil atau sepeda. Sementara tidak ada angkutan umum yang bisa mengantar kita tepat di depan pintu masuk. Bila menggunakan kendaraan umum, Angkutan Kota hanya sampai Terminal Dago, selanjutnya perjalanan diteruskan dengan kendaraan umum lain jurusan Kampus Unisba dan berhenti di Kordon. Dari Kordon perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 500 m.

Gerbang masuk Tahura Djuanda

Gerbang masuk Tahura, Sumber gambar : klik di sini

Selain dari arah Selatan, Tahura Djuanda juga dapat ditempuh dari arah Utara, yaitu melalui Obyek Wisata Maribaya-Lembang. Dari pintu gerbang ini akan dapat dilihat obyek wisata Curug Omas dan kemudian perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menyusur jalan setapak sepanjang 6 km menuju ke Pakar Dago.

Tahura Djuanda buka setiap hari, termasuk hari libur, dengan jam operasional mulai pukul 08.00 s/d 16.00. Harga tiket masuk untuk wisatawan lokal dibanderol Rp. 10.000,-, sementara wisatawan mancanegara dikenakan tarif Rp. 75.000,-. Anda yang memerlukan kegiatan foto komersial juga bisa memanfaatkan lokasi ini dengan tarif Rp. 200.000,-

Apa saja yang ada di Tahura Djuanda?

  • Curug Dago

Curug Dago terletak di bagian Utara Kota Bandung, merupakan kawasan konservasi dan menjadi satu kesatuan dengan kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Saat ini Curug Dago memiliki pemandangan alam ekosistem hutan dan perkampungan Sunda pada kanan kiri aliran sungai Cikapundung. Keindahan air terjun sungai Cikapundung setinggi +/- 15 meter, dilengkapi dengan 2 (dua) buah Batu Prasasti peninggalan Kerajaan Thailand, serta tempat peristirahatan yang sejuk di bawah pohon-pohon hutan.

curug-dago-01

Curug Dago, Sumber gambar : klik di sini

Curug Dago merupakan bahan batuan tufaan seperti kawasan lain yang ada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda yaitu terbentuk dari zaman kuarter dan merupakan hasil letusan Gunung Tangkuban Perahu. Curug Dago memiliki 2 (dua) buah ceruk hasil erosi/pengikisan aliran sungai.

Ceruk pertama yang terletak dekat aliran sungai (relatif paling muda) celling nya merupakan deposit kerakal (gravel), sedangkan pada ceruk yang kedua celling nya adalah vulkanic boulders. Dasar ceruk pertama mengandung lapisan tanah cukup tebal, sementara lantai/dasarnya kerakal (pebbles).

curug-dago-02

Curug Dago, Sumber gambar : klik di sini

  • Curug Omas

Curug Omas terletak berdekatan dengan obyek wisata Maribaya. Di lokasi ini terdapat fenomena air terjun dari aliran Sungai Cikawari. Di atas air terjun ini terdapat jembatan yang dapat digunakan untuk melintasinya. Siapapun yang melintasi jembatan ini sungguh akan merasakan dan menikmati fenomena air terjun yang penuh dengan pesona, terlebih lagi saat wisatawan dapat merasakan ketinggian air terjun yang deras setinggi +/- 30 meter, dengan melihat ke bawah nya.

curug-omas-01

Curug Omas, Sumber gambar : klik di sini

Dengan melihat air terjun akan nampak hamparan dasar sungai yang merupakan pertemuan dua aliran sungai Cikawari dan aliran sungai Cikapundung, dua pertemuan aliran sungai ini merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung hulu yang mengalir dan berbelok membelah kawasan Taman Hutan Raya.

Diatas Curug Omas terdapat sebuah jembatan yang memacu adrenalin siapapun yang melintasinya. Demikian pula di bagian bawah Curug Omas terdapat sebuah jembatan yang melintasi sungai yang mengalir dari atas curug.

curug-omas-02

Curug Omas, Sumber gambar : klik di sini

Selain fenomena air terjun yang menakjubkan, kondisi lingkungan Curug Omas pun masih asri dan berhawa sejuk dan aliran air nya sangat jernih. Arena permainan dengan hamparan rumput yang hijau serta ditunjang dengan sarana prasarana dan fasilitas tempat peribadatan dan peristirahatan yang cukup memadai, menambah keindahan curug ini.

  • Goa Belanda

Semula kawasan yang sekarang ditetapkan sebagai Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda adalah bentangan pegunungan dari Barat sampai ke Timur yang merupakan “tangki air raksasa alamiah” untuk cadangan di musim kemarau. Di daerah Aliran Sungai Cikapundung yang ada di Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda pada masa pendudukan Belanda dibangun Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Bengkok yang merupakan PLTA pertama di Indonesia pada tahun 1918, dimana terowongan tersebut melewati Perbukitan batu pasir tufaan.

Pada masa pendudukan Belanda, perbukitan Pakar ini sangat menarik bagi strategi militer, karena lokasi nya yang terlindung dan begitu dekat dengan pusat kota Bandung. Menjelang Perang Dunia ke II pada awal tahun 1941 kegiatan militer Belanda makin meningkat. Dalam terowongan untuk pembangkit listrik tenaga air (PLTA) Bengkok sepanjang 144 meter dan lebar 1,8 meter dibangunlah jaringan goa sebanyak 15 lorong dan 2 pintu masuk se-tinggi 3,20 meter, luas pelataran yang dipakai goa seluas 0,6 hektar dan luas seluruh goa berikut lorong nya adalah 548 meter. Selain untuk kegiatan militer, bangunan Goa ini digunakan untuk stasion radio telekomunikasi Belanda, karena station radio yang ada di Gunung Malabar terbuka dari udara, tidak mungkin dilindungi dan dipertahankan dari serangan udara.

goa-belanda-02

Goa Belanda, Sumber gambar : klik di sini

Meskipun akhirnya belum terpakai secara optimal, namun pada awal Perang Dunia Ke II dari stasion radio komunikasi inilah Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter Poorten melalui Laksamana Madya Helfrich dapat berhubungan dengan Panglima Armada Sekutu Laksamana Muda Karel Doorman untuk mencegah masuknya Angkatan Laut Kerajaan Jepang yang mengangkut pasukan mendarat di Pulau Jawa. Sayang sekali usaha ini gagal dan seluruh pasukan berhasil mendarat dengan selamat dibawah komando Letnan Jendral Hitosi Imamura.

Saluran/terowongan berupa jaringan goa di dalam perbukitan ini dinamakan Goa Belanda. Pada masa kemerdekaan Goa ini pernah dipakai atau dimanfaatkan sebagai gudang mesiu oleh tentara Indonesia. Goa Belanda saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh dengan nilai sejarah.

  • Goa Jepang

goa-jepang-01

Goa Jepang, Sumber gambar : klik di sini

Tanggal 10 Maret 1942 dengan resmi angkatan Perang Hindia Belanda dengen pemerintah sipil-nya menyerah tanpa syarat kepada Bala tentara Kerajaan Jepang dengan upacara sederhana di Balai Kota Bandung. Setelah upacara Panglima Perang Hindia Belanda Letnan Jendral Ter poorten dan Gubernur Jendral Tjarda Van Stakenborgh ditawan di Mansyuria sampai perang dunia II selesai.

goa-jepang-02

Goa Jepang, Sumber gambar : klik di sini

Begitu instalasi militer Hindia Belanda dikuasai seluruhnya maka tentara Jepang membangun jaringan Goa tambahan untuk kepentingan pertahanan di Pakar, dimana letaknya tidak jauh dari Goa Belanda. Konon pembangunan goa ini dilakukan oleh para tenaga kerja secara paksa yang pada saat itu disebut “romusa” atau “nala karta”. Goa tambahan ini yang terdapat di daerah perbukitan Pakar tepatnya berada dalam wilayah Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda mempunyai 4 pintu dan 2 saluran udara. Dilihat dari lokasi dan bentuknya Goa ini diperkirakan berkaitan dengan kegiatan dan fungsi strategis kemiliteran. Lorong-lorong dan ruang-ruang yang terdapat pada Goa ini dapat dipergunakan sebagai markas, maupun tempat penyimpanan peralatan dan logistik. Selama pendudukan Jepang di Indonesia, daerah Pakar yang sekarang Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda dipergunakan untuk ke-pentingan militer dan tertutup untuk masyarakat.

goa-jepang-03

Goa Jepang, Sumber gambar : klik di sini

Goa tambahan yang dibangun pada masa pendudukan Jepang dinamakan Goa Jepang. Goa Jepang saat ini dapat dimasuki dengan aman dan dijadikan sebagai tempat wisata yang penuh pesona karena alam sekitarnya yang sangat indah dan memiliki nilai sejarah.

Nah, tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati kesegaran hutan kan? Jika sudah puas menikmati semua tempat wisata di Dago Pakar, sebelum pulang sempatkan mengunjungi museum yang ada di dekat kantor pengelola. Tak jauh dari situ, terdapat juga tempat bermain anak-anak dan saung-saung untuk melepas lelah.

Selamat berlibur!

Sumber : Tahura Djuanda

Tags: , , ,

4 Comments »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.