Seperti Pebisnis Kelas Dunia Lain, Sukanto Tanoto Memulai dari Usia Muda

Share Button

Seperti Pebisnis Kelas Dunia Lain, Sukanto Tanoto Memulai dari Usia Muda – Pengusaha Sukanto Tanoto menjalankan sebuah langkah penting dalam dunia bisnis. Sudah menjadi kepercayaan umum bahwa jika ingin meraih sukses sebagai pebisnis, cara yang terbaik ialah dengan segera memulainya secepat mungkin.

Hal ini sudah menjadi dipercaya di mana saja. Bukan hanya di Indonesia, banyak pebisnis ternama di dunia yang sukses karena memang sudah berbisnis sejak usia muda.

Salah satu contohnya adalah miliuner asal Meksiko, Carlos Slim. Pria kelahiran 28 Januari 1940 ini termasuk orang paling kaya di dunia. Per November 2017, kekayaannya ditaksir oleh Forbes mencapai 1,1 miliar dolar Amerika Serikat. Ini menempatkan Slim sebagai orang terkaya keenam di muka bumi.

Sumber kekayaaan Slim berasal dari berbagai bidang bisnis yang ditekuninya. Slim dan keluarganya mengontrol America Movil, sebuah perusahaan telekomunikasi terbesar di Amerika Latin. Bukan hanya itu, Slim memiliki perusahaan yang bergerak dalam industri consumer goods, pertambangan, real estate, konstruksi, hingga media seperti The New York Times.
Untuk mengendalikan bisnisnya, Slim mendirikan Grupo Carso yang menjadi holding company. Dari sana ia mengontrol laju perusahaannya yang bergerak dalam bidang retail, infrastruktur, konstruksi, serta beragam jenis industri.

Kiprah Slim begitu luar biasa. Ia benar-benar merintis bisnisnya dari nol. Putra seorang imigran asal Lebanon ini bahkan sudah mulai berbisnis sejak usia sebelas tahun.

Dari kecil, Slim sudah punya hasrat besar untuk menjadi seorang pengusaha. Ayahnya yang tahu segera mengajarinya manajemen, akuntansi, hingga pembukuan keuangan yang merupakan fondasi penting dalam bisnis. Setiap pekan, ia bahkan memberi uang lima peso kepada Slim agar dicatat dalam buku pembukuannya.

Semua itu memupuk hasrat berbisnis di dalam diri Slim. Jadilah pada usia sebelas tahun, ia mengambil putusan bisnis pertamanya. Ia membeli bonds saving pemerintah Meksiko yang membuatnya paham konsep bunga berbunga.

Setahun berselang, tepatnya dalam usia 12 tahun, Slim sudah melakukan pembelian saham di sebuah bank di negerinya. Bahkan, pada usia 15 tahun, ia sudah menjadi salah satu shareholder di bank terbesar di Meksiko.

Memasuki usianya yang ke-17, Slim sudah mendapat penghasilan sebesar 200 euro per pekan. Hal itu didapatnya karena bekerja di toko ayahnya. Namun, sembari bekerja, ia melanjutkan kuliah di National Autonomous University of Mexico.

Selepas kuliah pada 1961, Slim bekerja sebagai pialang saham di Meksiko. Di sana ia bekerja sangat keras. Lembur bekerja hingga 14 jam per hari merupakan pengalaman biasa baginya.

Namun, kerja kerasnya tidak sia-sia. Slim mendapat ilmu yang besar tentang seluk-beluk saham. Ia menikmati buahnya ketika investasi pribadinya meledak pada 1965. Berkat itu, Slim memiliki dana sebesar 400 ribu dolar Amerika Serikat. Hasil itu dipakainya untuk menjalankan usaha sebagai broker saham dengan mendirikan Inversora Bursatil.

Bersamaan dengan itu, Slim merintis kehadiran Grupo Carso. Pada 1966, ia membeli sebuah perusahaan bernama Jarritos del Sur yang membuatnya bisa mendirikan Inmobiliaria Carso.

Sejak saat itu, kiprah Slim di dunia bisnis semakin besar. Ia mulai melebarkan sayap bisnisnya dengan langkah yang khas. Slim biasa mengakuisisi perusahaan yang bernilai di bawah value sebenarnya. Ia menatanya lalu menjualnya dengan harga yang kompetitif. Jika tidak, Slim akan menjadikannya sebagai sarana untuk menghasilkan uang.

Dengan itu, kekayaannya meningkat pesat. Ia pun bisa menjadi salah satu orang terkaya di dunia.

MIRIP SUKANTO TANOTO

Petualangan bisnis Slim mirip dengan Sukanto Tanoto. Kedua pengusaha sukses itu sama-sama mulai berbisnis sejak usia muda. Lihat saja kisah hidup Sukanto Tanoto. Pria kelahiran 25 Desember 1949 ini telah terjun dalam dunia bisnis sejak usia 17 tahun.
Saat itu, Sukanto Tanoto sudah terjun mengelola toko milik keluarganya. Ia berjualan onderdil mobil, bensin, dan minyak menggantikan ayahnya yang sakit keras karena terlalu lelah bekerja.

Pada usia yang belum genap 18 tahun, Sukanto Tanoto akhirnya memulai bisnis pribadi perdananya. Saat itu, seseorang menemuinya dan menawari sebuah peluang bisnis. Sukanto Tanoto tidak tahu bahwa orang itu adalah seorang pejabat sebuah perusahaan milik negara. Ia ditawari kesempatan untuk menjadi suplier dan kontraktor untuk bisnis perminyakan.
Kala itu, Sukanto Tanoto segera saja menyanggupinya. Meski tidak punya pengalaman sama sekali, ia memberanikan diri. “Saya mau saja karena waktu itu masih muda,” ujarnya di Inspirasi Daily.

Sejak saat itu, Sukanto Tanoto mulai menjalankan berbagai jenis pekerjaan. Ia menyuplai onderdil kendaraan hingga bekerja melakukan perbaikan air conditioner (AC). Bahkan, perusahaan Sukanto Tanoto juga membuat rumah, jalan, hingga lapangan golf.
Ragam pekerjaan itu tidak membuat Sukanto Tanoto merasa keberatan. Ia malah sangat menikmati suka dan duka menjalaninya. Sebagai contoh, ketika membutuhkan bahan bangunan untuk kontrak pekerjaan membuat perumahan, Sukanto Tanoto rela berpergian ke luar kota untuk mendapatkannya. Jadilah pada usia 20 tahun ia biasa pergi hingga ke Sumbawa atau Lampung untuk berburu bahan bangunan.

Masih minim pengalaman juga tidak membuat Sukanto Tanoto minder. Sadar belum tahu banyak hal karena masih muda, ia tidak pernah malu untuk bertanya. Contohnya ketika tidak paham tentang AC, ia tidak segan menanyakannya kepada para pegawainya.
Alhasil, menekuni bisnis supplier dan general contractor membuat Sukanto Tanoto punya bekal kuat untuk mendirikan RGE. Ia memiliki beragam pengalaman yang berguna untuk mengelola RGE.
Contoh nyata adalah bagaimana mengelola sebuah proyek. Ketika mendapat kontrak untuk membangun jalan sepanjang 18 kilometer di Lhokseumawe, Aceh, Sukanto Tanoto mendapat pelajaran penting. Saat itu, pekerjaan yang dilakukannya terancam terlambat dari jadwal. Akibatnya besar kemungkinan akan ada kerugian finansial besar yang akan dialami.

Melihat hal itu, Sukanto Tanoto segera bertindak. Ia turun langsung ke lokasi dan merombak tim dengan menghadirkan tim baru yang lebih berpengalaman. Langkah itu membuat pekerjaan berjalan lancar dan bisa diselesaikan sebelum tenggat waktu.

Oleh sebab itu, Sukanto Tanoto menilai bidang usaha itu penting baginya. “Itulah technical school bagi saya,” katanya.

Namun, petualangan bisnis Sukanto Tanoto baru benar-benar melejit ketika mendirikan RGE pada 1973. Saat itu, ia memulainya dengan nama Raja Garuda Mas. Bidang industri pertama yang digelutinya adalah kelapa sawit.

Langkah itu terbilang hebat. Meski sudah sukses saat masih muda, Sukanto Tanoto tidak cepat berpuas diri. Dana yang dimilikinya dijadikan modal untuk mengembangkan usaha baru. Padahal, saat itu, ia sempat mendapat keuntungan besar karena bisnisnya sebagai kontraktor perminyakan tengah melejit akibat krisis minyak. Tapi, dana yang dimilikinya justru digunakan untuk merintis RGE.

Hasilnya bisa terlihat saat ini. RGE yang didirikannya menjadi korporasi kelas dunia. Dengan aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan mencapai 60 ribu orang, RGE merupakan salah satu grup perusahaan sumber daya terbesar di Indonesia.

Kesuksesan ini mungkin tidak akan diraih oleh Sukanto Tanoto kalau ia tidak memulai berbisnis sejak muda. Jejaknya mirip Slim yang meraih keberhasilan serupa.

Sumber :

Pengaruh Anderson Tanoto di Raja Garuda Mas


http://www.qerja.com/company/view/raja-garuda-mas-group

About Admin 79 Articles
Informasi Tatar Pasundan | Sunda Jawara | Contact : admin@pasundan.info

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*