Seni & Budaya
Cerita & Legenda
Bandung
Kuliner
Wisata
Home » Berita, Featured, Garut, Geografi

Menelusuri Jejak Charlie Chaplin di Cibatu

Submitted by on 21/05/2014 – 11:42 One Comment
Share Button

Siapa yang tidak mengenal Charlie Chaplin? Pria berkumis kotak yang seringkali menghiasi layar hitam putih ini rupanya pernah menjejakkan kaki di Cibatu, Garut. Bukan hanya sekali, tetapi dua kali!

Kunjungan pertama Chaplin ke Cibatu tahun 1927 ditemani Mary Pickford, seorang aktris Kanada pemenang Oscar. Sementara pada kunjungan kedua di tahun 1935, Chaplin ditemani oleh istrinya, Paulette Goddard, pemeran utama perempuan dalam film Modern Times dan The Great Dictator 2.

Sementara menurut Baraya Pasundan, Natasia Verdoux yang sudah membaca buku A Comedian Sees the World, kunjungan Charlie Chaplin kedua ke Garut pada tahun 1932 dan ditemani oleh kakaknya Sydney Chaplin.

Untuk apa Chaplin ke Cibatu? Berlibur jawabannya.

Boleh jadi kita yang hidup di masa sekarang, bertahun-tahun setelah kunjungan Chaplin ke Cibatu bertanya-tanya, mengapa Cibatu jadi tujuan berlibur Chaplin? Ada apakah di Cibatu?

Garut dengan nuansa pegunungannya dahulu dikenal dengan sebutan “Swiss Van Java”. Dikelilingi oleh Gunung Papandayan, Gunung Cikuray, dan Gunung Guntur. Di sana juga terdapat Candi Cangkuang, Situ Cangkuang, Situ Bagendit, dan beberapa pemandian air panas.

Bukan hanya Chaplin yang  terpesona dengan keindahan pemandangan alam di Garut. Tokoh lain yang juga pernah menjejakkan kaki di Cibatu adalah Georges Clemenceau, Perdana Menteri Perancis selama dua periode, tahun 1906-1909 dan 1917-1920. Beliau adalah penulis politik terkemuka, dan juga pendiri koran La Justice (1880), L’Aurore (1897), dan L’Homme Libre (1913).

Masih di Cibatu, Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta juga pernah transit saat menghantarkan mereka ke Garut dengan kereta luar biasa ditemani Ibu Fatmawati dan Ibu Rachmi Hatta.

Stasiun Cibatu, Saksi Bisu Masa Jaya Garut

Stasiun Cibatu pada tahun 1918, pada masa kolonial Belanda (Sumber gambar: klik di sinia

Dibangun tahun 1889, Stasiun Cibatu Garut terletak di +612 mdpl adalah Stasiun Kelas 1 yang sangat penting keberadaannya. Di Stasiun Cibatu ini kereta api dengan lokomotif uap ditukar. Kereta api tujuan Bandung dipasangi lokomotif gunung, dan kereta dari Bandung ke Yogyakarta mendapat lokomotif pelari cepat untuk tanah datar.

Lokomotif uap, pelari cepat, sumber gambar : klik di sini

Stasiun Cibatu merupakan salah satu depo lokomotif uap terbesar di Jawa-Sumatera, dengan jumlah pekerja 700 orang untuk memelihara 100-150 lokomotif uap setiap harinya.

Depo lokomotif Stasiun Cibatu, sumber gambar : klik di sini

Ketika Presiden Soekarno berkunjung ke Cibatu, selain jalur rel barat-timur yang sampai sekarang masih digunakan, jalur rel dari Stasiun Cibatu menuju Cikajang (Garut Selatan) juga masih beroperasi. Jalur menuju Cikajang ini merupakan jalur favorit dengan lima jadwal keberangkatan lokomotif uap setiap hari. Bagaimana tidak, pemandangan sepanjang jalur ini sungguh menakjubkan.

Lokomotif Mallet 2-6-6-0 CC5001 dari Cibatu ke Cikajang , Agustus 1978 (Copyright James Waite)

Stasiun Cikajang tempo dulu

Stasiun Cikajang tempo dulu, sumber gambar : klik di sini

Kejayaan Garut sebagai tujuan wisata favorit dituliskan oleh Haryoto Kunto dalam buku Seabad Grand Hotel Preanger 1897-1997. Menurut Haryoto Kunto, di tahun 1935-1940 di halaman Stasiun Cibatu diparkir selusin taksi dan limousine milik hotel-hotel di Garut.

Jejak Chaplin di Cibatu memang tidak banyak didokumentasikan. Beberapa foto keberadaan Chaplin berhasil diabadikan oleh Tilly Weissenborn, seorang fotografer keturunan Jerman yang lahir di Kediri Jawa Timur. Dari Tilly pula Chaplin mengetahui pesona keindahan Garut melalui kartu pos yang dikirimkan oleh Tilly.

Chaplin di Cibatu, sumber gambar : klik di sini

Menurut cerita, Chaplin beristirahat di Hotel Grand Ngamplang. Bersama Hotel Papandayan, Hotel Bagendit, Villa Pauline, Hotel Belvedere, Villa Dolce dan Hotel Van Hengel, Hotel Grand Ngamplang menjadikan Garut dikenal sebagai pionir resor wisata Hindia Belanda.

Hotel Grand Ngamplang Garut tempo dulu, sumber gambar : klik di sini

Hotel Grand Ngamplang Garut tempo dulu, sumber gambar : klik di sini

Dari Ngamplang yang berada di ketinggian 630 meter di atas permukaan laut ini orang bisa melihat kemegahan Gunung Papandayan, Guntur, Cikuray, dan Karacak. Bisa jadi pemandangan ini mengingatkan Chaplin pada tempat tinggalnya di Desa Corsier-sur-Vevey, Swiss.

Pemandangan dari Ngamplang tempo dulu, sumber gambar : klik di sini

Pemandangan dari Ngamplang tempo dulu, sumber gambar : klik di sini

Ngamplang masa kini, sumber gambar : klik di sini

Ngamplang masa kini, sumber gambar : klik di sini

Stasiun Cibatu kini…

Stasiun Cibatu kini, sumber gambar : klik di sini

Tembok yang kusam, risplank yang mulai keropos, menunjukkan kerentaan Stasiun Cibatu. Kereta yang berhenti tidak banyak, hanya melayani empat rangkaian kereta jarak jauh (Serayu Pagi, Kahuripan, Pasundan, dan Kutojaya Selatan) ditambah satu kereta ekonomi lokal (Simandra, Cibatu-Purwakarta).

Rumah-rumah tua dengan daun-daun jendela yang lebar dan langit-langit yang tinggi di sekitar stasiun adalah saksi bisu kejayaan Stasiun Cibatu.

**R23

 

One Comment »

Leave a comment!

Add your comment below, or trackback from your own site. You can also Comments Feed via RSS.

Be nice. Keep it clean. Stay on topic. No spam.

You can use these tags:

<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong> 

This is a Gravatar-enabled weblog. To get your own globally-recognized-avatar, please register at Gravatar.