Mampu Mengelola Tekanan Membuat Sukanto Tanoto Sukses

Share Button

Mampu Mengelola Tekanan Membuat Sukanto Tanoto sukses

Source : RGEI

Pengusaha Sukanto Tanoto sama seperti pebisnis lain. Ada kalanya Chairman Royal Golden Eagle (RGE) ini merasakan tekanan kala menjalankan perusahaan. Namun yang membedakannya dengan yang lain adalah kemampuan dalam mengelola bisnis.

Siapa pun harus menyadari bahwa perjalanan bisnis tidak seperti berkendara di jalan tol yang mulus. Kenyataannya justru berbeda dari hal tersebut. Kewirausahaan malah lebih mirip seperti berlayar di samudera luas.

Di sana terkadang kondisi alam bersahabat. Cuaca cerah dan ombak yang ramah memudahkan pelayaran. Tapi, perubahan situasi ekstrem amat mungkin dialami. Badai bisa datang sehingga laut tidak lagi bersabahat.

Dalam kondisi seperti itu, nasib terburuk bisa dialami. Jika tidak bisa mengendalikan kapal dengan baik, bukan tak mungkin akan karam di tengah laut.

Seperti itulah gambaran kehidupan seorang wirausahawan. Tekanan yang muncul akibat tantangan merupakan keseharian yang mesti dihadapi. Oleh sebab itu, kemampuan dalam mengelola stres sangat menentukan kesuksesan.

Sukanto Tanoto tidak berbeda jauh dengan para pengusaha lain. Ia juga sering merasakan tekanan berat akibat beragam problem di RGE. Namun, pria kelahiran 25 Desember 1949 ini mampu mengelolanya dengan baik sehingga mampu meraih kesuksesan.

Hal itu terlihat dari kondisi Royal Golden Eagle saat ini. Berdiri pada 1973 dengan nama Raja Garuda Mas, RGE mulanya hanya perusahaan skala lokal. Kala itu bidang yang digeluti adalah pembuatan kayu lapis.

Namun, saat ini, RGE sudah berkembang begitu pesat. Mereka telah menjadi korporasi global dengan aset mencapai 18 miliar dolar Amerka Serikat dan 60 ribu karyawan. Bukan hanya itu, RGE juga mempunyai anak-anak perusahaan dengan bidang industri yang beragam seperti pulp and paper, selulosa spesial, viscose fibre, kelapa sawit, serta pengembangan energi.

Kesuksesan ini diraih lewat perjuangan keras yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto. Selama menjalankan RGE dari dulu hingga kini, ada banyak tantangan yang dihadapinya. Namun, secara menakjubkan, pebisnis kelahiran Belawan ini mampu menghadapinya dengan baik.

Saya menyebutnya sebagai AQ, adversity quotient. Kemampuan untuk menerima tekanan, karena apa saja bisa terjadi, ujar Sukanto Tanoto.

Pada dasarnya, adversity quotient bisa diartikan sebagai kecerdasan yang dimiliki seseorang untuk mengatasi kesulitan dan sanggup untuk bertahan hidup. Dalam terminologi ini, semangat untuk tidak mudah menyerah dalam menghadapi setiap kesulitan hidup merupakan bentuk nyatanya.

Selain itu, adversity quotient bisa dimaknai sebagai ketahanan atau daya tahan seseorang ketika menghadapi masalah. Adapun ketahanan yang dimaksud adalah kemampuan untuk menghadapi peristiwa yang tidak menyenangkan dan situasi yang penuh tekanan tanpa menjadi berantakan. Bersamaan dengan itu, orang dengan secara aktif dan pasif berupaya mengatasi kesulitan.

Ketahanan ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk tetap tenang, sabar, berkepala dingin, tanpa terbawa emosi. Orang yang tahan menghadapi kesulitan akan menghadapi masalah yang ada, bukan menghindari atau menyerah karena rasa tidak berdaya atau putus asa.

AQ diperlukan jika ingin meraih kesuksesan. Hal ini tak kalah penting dibanding intelligence quotient dan emotial quotient. Namun, seperti yang dipaparkannya, Sukanto Tanoto memiliki AQ yang kuat. Inilah modalnya untuk menjalankan RGE tetap berada di jalurnya.

Terdapat banyak contoh kesulitan yang mesti dialami oleh Sukanto Tanoto. Pada era 1990-an, ia pernah mendirikan pabrik pulp and paper di Provinsi Sumatera Utara. Namun, kegagalan dialami karena proses pengolahan limbah yang kurang memadai. Akibatnya, anak perusahaan RGE di sana ditutup.

Akan tetapi, Sukanto Tanoto memperlihatkan diri bahwa memang memiliki AQ tinggi. Buktinya adalah ia tidak mau menyerah terhadap kegagalan yang dialaminya. Hal itu ditunjukkan dengan mendirikan perusahaan pulp and paper baru di Provinsi Riau.

Sukanto Tanoto menyatakan kegagalan sebelumnya dijadikan pelajaran untuk membangun pabrik pulp and paper baru. Dengan tekad kuat seperti itu, ia akhirnya meraih kesuksesan. Grup APRIL yang merupakan anak perusahaan RGE di industri pulp and paper berkembang menjadi salah satu yang terbesar di Indonesia.

MENGHADAPI HANTAMAN KRISIS

Sukanto Tanoto
Source : sukantotanoto.net

Tekanan yang dirasakan oleh Sukanto Tanoto selama mengelola RGE masih banyak lagi. Dari semuanya, salah satu yang terberat terjadi ketika krisis moneter menerpa Indonesia pada 1997.

Saat itu, nilai rupiah atas dolar Amerika Serikat rontok dengan cepat. Bagi dunia bisnis, ini merupakan petaka. Sebab, banyak komponen biaya produksi yang dibiayai dalam dolar. Ini membuat pembengkakan biaya menjadi berlipat-lipat.

Selain itu, biasanya utang juga dalam mata uang dolar. Bagi pihak pengutang, krisis membuat nilai utang membengkak berkali-kali karena rupiah terdepresiasi. Ini semakin menambah berat kondisi yang dihadapi oleh para pengusaha.

Dalam kondisi ini, banyak sekali perusahaan di Indonesia yang rontok. Laju operasi perusahaannya terpaksa dihentikan. Pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana.

RGE juga mengalami ancaman yang sama. Saat itu, mereka tengah membangun pabrik pulp and paper di Pangkalan Kerinci. Namun, tidak semua mesin bisa datang. Adapun yang datang tidak dapat dipasang karena tidak ada tenaga ahli.

Bisa dibayangkan betapa besar tekanan yang dirasakan oleh Sukanto Tanoto. Ia menyadari ancaman kebangkrutan ada di depan mata. Kondisi ini pun sudah disuarakannya kepada keluarganya.

Di satu sisi, ia tidak mau RGE kolaps. Sukanto Tanoto memikirkan nasib para karyawannya yang pasti akan merasakan kesulitan hidup jika kehilangan pekerjaan di RGE.

Dalam kondisi seperti itu, AQ yang dimilikinya bekerja. Ia berusaha tetap tenang dan berpikir dengan pikiran jernih. Sembari menenangkan hati, Sukanto Tanoto berupaya mencari solusi terbaik.

Pola pikir itu akhirnya membuatnya menemukan langkah yang tepat. Ia merelakan asetnya di Tiongkok dijual. Meski perih, putusan ini diambil demi mendapatkan dana untuk membayar utang yang jatuh tempo serta memutar operasional perusahaan.

Keberanian ini yang akhirnya membuatnya mampu membawa RGE lepas dari jeratan krisis. Langkah itu pun dikagumi oleh banyak pihak termasuk puteranya, Anderson Tanoto.

Bagi saya, langkah itu memerlukan visi dan nyali. Dia selalu mengatakan kepada saya sekalipun memiliki mesin terbaik di dunia namun tidak dapat dioperasikan, hal itu sama seperti onggokan sampah, ujar Anderson Tanoto.

Ketika krisis menerpa, Sukanto Tanoto mampu melepaskan diri dari tekanan. Ia sanggup mengelolanya dengan baik. Cara yang dilakukannya ialah selalu berupaya tenang dan berpikir positif.

Perjalanan kewirausahaan tidak akan selalu menjadi satu hal yang mulus dan mudah. Mungkin ada pasang surut dan pengambilan risiko tidak bisa dihindari, kata Sukanto Tanoto. Tetap tenang, berpikir komprehensif, analisis asal dan akar penyebab dari risiko, berusaha untuk mengontrol dan menyelesaikannya.

Untuk bisa berpikir tenang seperti itu, pengusaha harus mencari dukungan dari pihak lain. Mereka bisa saja kolega, teman, atau keluarga terdekat. Ini pula yang dilakukan oleh Sukanto Tanoto dengan membagi bebannya kepada keluarganya.

Langkah ini ternyata terbukti efektif dalam mengelola beragam jenis tekanan yang dirasakannya. Tanpa itu, tidak mungkin Sukanto Tanoto mampu membawa RGE berkembang besar seperti sekarang.

About Admin 79 Articles
Informasi Tatar Pasundan | Sunda Jawara | Contact : admin@pasundan.info

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*