<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Informasi Tatar Pasundan</title>
	<atom:link href="http://www.pasundan.info/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.pasundan.info</link>
	<description>Informasi Seputar Pasundan</description>
	<lastBuildDate>Tue, 09 Mar 2010 08:28:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Angklung</title>
		<link>http://www.pasundan.info/video/angklung.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/video/angklung.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 08:19:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Video]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=175</guid>
		<description><![CDATA[Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Angklung adalah alat musik tradisional Indonesia yang berasal dar Tanah Sunda, terbuat dari bambu, yang dibunyikan dengan cara digoyangkan (bunyi disebabkan oleh benturan badan pipa bambu) sehingga menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3, sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil. Laras (nada) alat musik angklung sebagai musik tradisi Sunda kebanyakan adalah salendro dan pelog.</p>
<p><span id="more-175"></span></p>
<p><strong>Asal-usul Angklung<br />
</strong><br />
Dalam rumpun kesenian yang menggunakan alat musik dari bambu dikenal jenis kesenian yang disebut angklung. Adapun jenis bambu yang biasa digunakan sebagai alat musik tersebut adalah awi wulung (bambu berwarna hitam) dan awi temen (bambu berwarna putih). Purwa rupa alat musik angklung; tiap nada (laras) dihasilkan dari bunyi tabung bambunya yang berbentuk wilahan (batangan) setiap ruas bambu dari ukuran kecil hingga besar.</p>
<p>Angklung merupakan alat musik yang berasal dari Jawa Barat. Angklung gubrag di Jasinga, Bogor, adalah salah satu yang masih hidup sejak lebih dari 400 tahun lampau. Kemunculannya berawal dari ritus padi. Angklung diciptakan dan dimainkan untuk memikat Dewi Sri turun ke Bumi agar tanaman padi rakyat tumbuh subur.</p>
<p>Dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan Sunda, di antaranya sebagai penggugah semangat dalam pertempuran. Fungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan, itu sebabnya pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung, pelarangan itu sempat membuat popularitas angklung menurun dan hanya di mainkan oleh anak- anak pada waktu itu.</p>
<p>Asal usul terciptanya musik bambu, seperti angklung berdasarkan pandangan hidup masyarakat Sunda yang agraris dengan sumber kehidupan dari padi (pare) sebagai makanan pokoknya. Hal ini melahirkan mitos kepercayaan terhadap Nyai Sri Pohaci sebagai lambang Dewi Padi pemberi kehidupan (hirup-hurip).</p>
<p>Perenungan masyarakat Sunda dahulu dalam mengolah pertanian (tatanen) terutama di sawah dan huma telah melahirkan penciptaan syair dan lagu sebagai penghormatan dan persembahan terhadap Nyai Sri Pohaci, serta upaya nyinglar (tolak bala) agar cocok tanam mereka tidak mengundang malapetaka, baik gangguan hama maupun bencana alam lainnya. Syair lagu buhun untuk menghormati Nyi Sri Pohaci tersebut misalnya:</p>
<p>Selanjutnya lagu-lagu persembahan terhadap Dewi Sri tersebut disertai dengan pengiring bunyi tabuh yang terbuat dari batang-batang bambu yang dikemas sederhana yang kemudian lahirlah struktur alat musik bambu yang kita kenal sekarang bernama angklung. Perkembangan selanjutnya dalam permainan Angklung tradisi disertai pula dengan unsur gerak dan ibing (tari) yang ritmis (ber-wirahma) dengan pola dan aturan=aturan tertentu sesuai dengan kebutuhan upacara penghormatan padi pada waktu mengarak padi ke lumbung (ngampih pare, nginebkeun), juga pada saat-saat mitembeyan, mengawali menanam padi yang di sebagian tempat di Jawa Barat disebut ngaseuk.</p>
<p>Demikian pula pada saat pesta panen dan seren taun dipersembahkan permainan angklung. Terutama pada penyajian Angklung yang berkaitan dengan upacara padi, kesenian ini menjadi sebuah pertunjukan yang sifatnya arak-arakan atau helaran, bahkan di sebagian tempat menjadi iring-iringan Rengkong dan Dongdang serta Jampana (usungan pangan) dan sebagainya.</p>
<p>Dalam perkembangannya, angklung berkembang dan menyebar ke seantero Jawa, lalu ke Kalimantan dan Sumatera. Pada 1908 tercatat sebuah misi kebudayaan dari Indonesia ke Thailand, antara lain ditandai penyerahan angklung, lalu permainan musik bambu ini pun sempat menyebar di sana.<br />
<a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/ba24d254479a219c2560f0e0a1f15e19.jpg" rel="lightbox[175]"><img class="alignnone size-medium wp-image-177" title="saung angklung" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/ba24d254479a219c2560f0e0a1f15e19-300x191.jpg" alt="" width="300" height="191" /></a><br />
Bahkan, sejak 1966, Udjo Ngalagena —tokoh angklung yang mengembangkan teknik permainan berdasarkan laras-laras pelog, salendro, dan madenda— mulai mengajarkan bagaimana bermain angklung kepada banyak orang dari berbagai komunitas.</p>
<p>Sumber dan informasi lebih lengkap bisa anda dapatkan di  : <a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Angklung">id.wikipedia.org</a></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Fvideo%2Fangklung.html&amp;t=Angklung" id="facebook_share_both_175" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_175') || document.getElementById('facebook_share_icon_175') || document.getElementById('facebook_share_both_175') || document.getElementById('facebook_share_button_175');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_175') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/video/angklung.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sari Ater / Ciater</title>
		<link>http://www.pasundan.info/travel/sari-ater-ciater.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/travel/sari-ater-ciater.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Mar 2010 07:30:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Geografi]]></category>
		<category><![CDATA[Subang]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=144</guid>
		<description><![CDATA[Seorang Ibu yang sudah cukup berumur santai duduk bersila diatas tikar bersama dengan anggota keluarganya. Disekitar lokasi duduk tersebut terdapat sumber mata air panas bercampur belerang yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Karena itu, tempat ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Seorang Ibu yang sudah cukup berumur santai duduk bersila diatas tikar bersama dengan anggota keluarganya. Disekitar lokasi duduk tersebut terdapat sumber mata air panas bercampur belerang yang diyakini dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Karena itu, tempat ini banyak dikunjungi oleh para wisatawan baik domestik maupun mancanegara.</p>
<p><span id="more-144"></span></p>
<p>Sumber mata air panas terdapat di beberapa tempat, namun air panas di Ciater ini terasa lain dari yang lain karena selain ditata dengan rapi juga dilengkapi dengan berbagai fasilitas. Pesona tersendiri yang menjadi daya tarik daerah ini adalah diyakininya kandungan belerang yang dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Berdasarkan pengalaman, banyak pengunjung yang datang dan berendam di kolam air panas tersebut memperoleh kesembuhan dari berbagai penyakit seperti kelumpuhan, reumatik, gangguan syaraf, tulang dan berbagai penyakit kulit. Hal ini disebabkan karena sumber air tersebut mengandung belerang, yang mana berdasarkan tes laboratorium merupakan unsur yang cukup penting untuk perawatan berbagai penyakit apabila dilakukan secara teratur. Selain itu hasil analisa Balneologi membuktikan, sumber air hangat mineral yang ada mengandung Calsium, Magnesium, Chloride, Sulfat, Thermo, Mineral, Hypertherma dengan kadar Alumunium yang tinggi ( 38,5 equiv persen ) dan keasaman yang tinggi yaitu PH 2,45. Air tersebut setelah melalui sungai sepanjang 2000 m menjadi dingin dan digunakan oleh penduduk untuk kepentingan pengairan lahan persawahan. Konon air tersebut dapat mempertinggi mutu panen dari pada menggunakan air biasa.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/pulosari.jpg" rel="lightbox[144]"><img class="alignnone size-full wp-image-171" title="pulosari" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/pulosari.jpg" alt="" width="216" height="134" /></a></p>
<p>Tempat wisata ini terletak di jalan raya Subang yang sangat mudah diakses oleh kendaraan umum maupun kendaraan pribadi. Dari arah Jakarta lewat puncak menuju Subang ditempuh dengan jarak kurang lebih 212 km dengan waktu tempuh 5 jam, tetapi kalau lewat Purwakarta jarak tempuhnya hanya sekitar 185 km dengan waktu tempuh 185 km. Perjalanan sepanjang jalur ini tidak menjemukan, karena ketika kita memasuki wilayah Subang udara terasa sejuk, serta pegunungan teh yang menghiasi jalan yang berkelak-kelok membuat perjalanan lebih asyik. Baliho yang cukup besar terpampang jelas di jalan raya Subang yang menunjukkan keberadaan wisata air panas tersebut. Tinggal masuk ke dalam kurang lebih satu kilometer kita akan memasuki pintu masuk untuk membayar ticket masuk sebesar Rp 16000 per orang dan tiap mobil kecil sebesar Rp 13,000. Sejenak kita bisa melihat-lihat suasana sekitar lokasi untuk melihat-lihat pedagang yang berjualan atau sekedar untuk bersantai sambil minum kopi. Lokasi parkir yang sangat luas ternyata sudah dipersiapkan oleh pengelola karena memang hampir tiap hari lokasi ini penuh dengan pengunjung apalagi tiap hari libur. Kapasitas untuk mobil sedan atau sekelasnya muat sekitar 500 unit, untuk truk atau bis sekitar 250 unit dan untuk kendaraan bermotor roda dua muat sekitar 1000 unit.</p>
<p>Setelah berkeliling, kita masuk ke lokasi pemandian dimana lokasi pemandian ini terbagi menjadi beberapa area. Area terbuka adalah setiap orang yang sudah membayar ticket masuk tidak dikenakan biaya lagi, tapi area terbuka ini menjadi lalu lalang orang dan tempatnya pun berbatu-batu sehingga kurang begitu nyaman untuk rilek. Lokasi kedua adalah lokasi kolam terbuka dengan air panas yang mengandung belerang tersebut. Untuk masuk ke lokasi ini masing-masing orang dikenakan biaya Rp 30,000. Dengan membayar uang masuk tersebut kita bisa lebih nyaman untuk mandi serta disediakan ruangan untuk bilas setelah berendam dia air yang mengandung belerang tersebut. Areal ketiga adalah kamar VIP dimana kolam-kolam air panas terbagi dalam ruangan-ruangan tertutup dan kita  bisa bebas mandi didalamnya. Untuk masuk ke kamar VIP ini kita dikenakan biaya sebesar Rp 37,000 termasuk mendapatkan soft drink &#8211; teh botol, handuk, shampoo dan sabun. Paling nyaman memang kita mandi di kamar VIP ini, disamping kita bisa rilek mandi juga betul-betul bisa menikmati segarnya mandi dengan air panas dari alam tanpa terganggu dengan yang lain. Kamar VIP tersebut selain ada air panasnya, juga dilengkapi dengan air dingin dari kran yang sudah tersedia sebagai pembilas ketika kita sudah puas berendam. Suhu air panas tersebut berkisar kalau langsung dari sumbernya ( Gunung Tangkuban Perahu ) berkisar antara 44 derajat celcius, tetapi setelah dialirkan ke kolam renang dan ke kamar-kamar mandi didalm hotel turun menjadi 37 &#8211; 40 derajat celcius.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/curugjodo.jpg" rel="lightbox[144]"><img class="alignnone size-full wp-image-169" title="curugjodo" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/curugjodo.jpg" alt="" width="216" height="277" /></a></p>
<p>Selain tempat pemandian fasilitas lain pun tersedia cukup lengkap, ada tempat bermain untuk anak-anak, kuda tunggang dan delman, souvenir shop, golf driving range, kolam pancing dan ada juga atraksi program akhir pekan: domba tangkas, pertunjukan tari tradisional sisingaan khas Kabupaten Subang di panggung terbuka, panggung dangdut, badut dan lain-lain. Ketika ditanyakan kepada salah seorang staff di sana tentang kelengkapan fasilitas yang sangat lengkap ini dijawab,&#8221;tempat ini sudah dipromosikan secara internasional, sehingga semua fasilitas bahkan bertaraf internasional harus dipersiapkan,&#8221;. Memang ketika kami berkunjung kesana terlihat banyak sekali turis mancanegara yang kesana, terutama turis-turis ini berkunjung ketika weekday, kalau weekend biasanya lebih banyak turis domestik.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/Sisingaan.jpg" rel="lightbox[144]"><img class="alignnone size-full wp-image-172" title="Sisingaan" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/Sisingaan.jpg" alt="" width="216" height="134" /></a> <a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/12/Picture-033.jpg" rel="lightbox[144]"></a></p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/12/Picture-033.jpg" rel="lightbox[144]"><img class="alignnone size-medium wp-image-151" title="Picture 033" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/12/Picture-033-300x224.jpg" alt="" width="300" height="224" /></a></p>
<p>Fasilitas lainnya adalah hotel yang terdiri dari 101 kamar dengan berbagai kelas yang disediakan bagi para tamu yang ingin menginap. Bagian luarnya dirancang secara harmonis berdasarkan arsitektur tradisional dan dilapisi dengan dinding bambu ( bilik ), ijuk atau sirap. Setiap kamar dilengkapi dengan kamar mandi air panas dan kolam renang khusus disediakan bagi para tamu hotel. Untuk makanan disediakan kedai, yaitu kedai Sunan Ambu dibuka selama 24 jam, dua kedai dibuka dari jam 08.00 sampai jam 23.00 WIB serta 1 restoran dibuka dari jam 08.00 sampai jam 23.00 WIB dengan fasilitas ruangan rapat cukup untuk 40 sampai dengan 250 orang. Untuk reservasi atau keterangan anda bisa menghubungi telp.: 022-2503188.</p>
<p>Bumi Pasundan memang bumi dengan sejuta pesona.</p>
<p>penulis : <a href="http://www.navigasi.net/goprv.php?u=xzy9gnf" target="_blank">Buyung Akram</a> Navigasi.net</p>
<p>Untuk informasi lebih lengkap mengenai Sari Ater silahkan kunjungi website nya di http://www.sariater-hotel.com</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Ftravel%2Fsari-ater-ciater.html&amp;t=Sari%20Ater%20%2F%20Ciater" id="facebook_share_both_144" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_144') || document.getElementById('facebook_share_icon_144') || document.getElementById('facebook_share_both_144') || document.getElementById('facebook_share_button_144');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_144') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/travel/sari-ater-ciater.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>8</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Trip asik ke Curug di Bojong Koneng</title>
		<link>http://www.pasundan.info/travel/trip-asik-ke-curug-di-bojong-koneng.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/travel/trip-asik-ke-curug-di-bojong-koneng.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Mar 2010 16:11:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bogor]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=157</guid>
		<description><![CDATA[Curug luhur (ada juga yang bilang Curug Koneng) berada di daerah Desa Bojong Koneng Kab Bogor, tepatnya di belakang perumahan Sentul City.  Minggu kemarin,gw n kang Sandi iseng maen kesini.
Berawal dari ajakan dia yang ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Curug luhur (ada juga yang bilang Curug Koneng) berada di daerah Desa Bojong Koneng Kab Bogor, tepatnya di belakang perumahan Sentul City.  Minggu kemarin,gw n kang Sandi iseng maen kesini.</p>
<p>Berawal dari ajakan dia yang udah ngebet pengen jalan2 setelah kepalanya hampir pecah oleh pekerjaan.</p>
<p>Malem berencana, dan pagi kita berangkat, kebetulan dari kosan gw menuju sentul city cuma 1 jam perjalanan menggunakan motor melewati jalan kecil menyusuri pinggiran tol.  Dari bundaran Bellanova Country Mall tinggal lanjut menembus Gerbang Utama perumahan Sentul City, lanjut setelah Taman Budaya belok kanan.</p>
<p><span id="more-157"></span></p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/45.jpg" rel="lightbox[157]"><img class="alignnone size-medium wp-image-162" title="45" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/45-300x148.jpg" alt="" width="300" height="148" /></a> <a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/05.jpg" rel="lightbox[157]"><img class="alignnone size-medium wp-image-167" title="05" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/05-300x155.jpg" alt="" width="300" height="155" /></a></p>
<p>Kalo ragu dan bimbang silahkan tanya ke Ojegers or penduduk setempat or Security yang bertugas, kemanakah arah desa Bojong Koneng. OK !  nah perjalanan dari Bundaran Bellanova ke parkiran Curug Luhur ditempuh kira2 30 menit dengan kendaraan, disarankan menggunakan motor karena walau jalannya aspal tapi banyak lubangnya sebagian bagus sih, kalo bawa kendaraan roda empat sebaiknya jangan yang ceper2 macem sedan kecuali sedannya diganti pake ban buat Off Road&#8230; hehehehe&#8230;  Dari parkiran kemudian kita akan melalui jalan setapak melintasi perumahan penduduk asli desa Bojong Koneng, kemudian melintasi pematang sawah menapaki jalan setapak berbatu yang datar2 saja.</p>
<p>Gak jauh ! ya memang ga jauh, hanya ditempuh dalam waktu 15 &#8211; 20 menit tergantung santai atau ngebut hehehhe&#8230;  Saran kalo mau ke sini sebaiknya pagi2 benar suapaya terasa keindahan alam sekitar dengan embun yang masih basah di rerumputan yang dilalui. Kemarin saya berdua teman melintasinya pada jam 11.00 wib aaaarrrggg panaaasss&#8230; karena kebetulan udara sangat cerah&#8230; dan walhasil punggung saya melepuh perih2 kepanasan, jadi kalo harus jalan di terik matahari sebaiknya mengggunakan topi bundar atau memasang handuk basah di punggung or leher&#8230; kalo ga noleh deh pake sun block&#8230; heheh</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/16.jpg" rel="lightbox[157]"><img class="alignnone size-full wp-image-160" title="16" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/16.jpg" alt="" width="220" height="300" /></a> <a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/15.jpg" rel="lightbox[157]"><img class="alignnone size-medium wp-image-159" title="15" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2010/03/15-300x237.jpg" alt="" width="300" height="237" /></a></p>
<p>Tiket masuk Curug Luhur ini hanya Rp. 5.000,- saja jauh sebelumnya kena juga retribusi jalan Rp. 3000 untuk kendaraan roda 4 dan Rp. 2000,- untuk motor. Kalo mau Shooting disini kena Rp. 2.500.000,- (kali aja ada yang mau bikin film dengan judul &#8220;Kembang Desa&#8221; cocok nih disini)  cukup sekian dan terima komen&#8230; hehehe</p>
<p>Sumber dan photo lebih lengkap bisa dilihat di <a href="http://stressmetal.multiply.com/photos/album/102/Trip_asik_ke_Curug_di_Bojong_Koneng?utm_source=cp&amp;utm_medium=facebook-cp&amp;utm_campaign=stressmetal" target="_blank">Multiply Nya Nto</a></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Ftravel%2Ftrip-asik-ke-curug-di-bojong-koneng.html&amp;t=Trip%20asik%20ke%20Curug%20di%20Bojong%20Koneng" id="facebook_share_both_157" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_157') || document.getElementById('facebook_share_icon_157') || document.getElementById('facebook_share_both_157') || document.getElementById('facebook_share_button_157');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_157') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	<!--/* OpenX Javascript Tag v2.8.7 */-->

<!--/*
  * The backup image section of this tag has been generated for use on a
  * non-SSL page. If this tag is to be placed on an SSL page, change the
  *   'http://www.mumored.com/login/www/delivery/...'
  * to
  *   'https://www.mumored.com/login/www/delivery/...'
  *
  * This noscript section of this tag only shows image banners. There
  * is no width or height in these banners, so if you want these tags to
  * allocate space for the ad before it shows, you will need to add this
  * information to the <img> tag.
  *
  * If you do not want to deal with the intricities of the noscript
  * section, delete the tag (from <noscript>... to </noscript>). On
  * average, the noscript tag is called from less than 1% of internet
  * users.
  */-->

<script type='text/javascript'><!--//<![CDATA[
   var m3_u = (location.protocol=='https:'?'https://www.mumored.com/login/www/delivery/ajs.php':'http://www.mumored.com/login/www/delivery/ajs.php');
   var m3_r = Math.floor(Math.random()*99999999999);
   if (!document.MAX_used) document.MAX_used = ',';
   document.write ("<scr"+"ipt type='text/javascript' src='"+m3_u);
   document.write ("?zoneid=15");
   document.write ('&cb=' + m3_r);
   if (document.MAX_used != ',') document.write ("&exclude=" + document.MAX_used);
   document.write (document.charset ? '&charset='+document.charset : (document.characterSet ? '&charset='+document.characterSet : ''));
   document.write ("&loc=" + escape(window.location));
   if (document.referrer) document.write ("&referer=" + escape(document.referrer));
   if (document.context) document.write ("&context=" + escape(document.context));
   if (document.mmm_fo) document.write ("&mmm_fo=1");
   document.write ("'><\/scr"+"ipt>");
//]]&gt;--></script><noscript><a href='http://www.mumored.com/login/www/delivery/ck.php?n=acf369cb&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE' target='_blank'><img src='http://www.mumored.com/login/www/delivery/avw.php?zoneid=15&cb=INSERT_RANDOM_NUMBER_HERE&n=acf369cb' border='0' alt='' /></a></noscript>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/travel/trip-asik-ke-curug-di-bojong-koneng.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sambut 200 Tahun Bandung, 200 Artis Siap Tidak Dibayar</title>
		<link>http://www.pasundan.info/news/sambut-200-tahun-bandung-200-artis-siap-tidak-dibayar.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/news/sambut-200-tahun-bandung-200-artis-siap-tidak-dibayar.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 12:50:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[event]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Bandung &#8211; 	Setidaknya 200 artis yang tergabung dalam Gabungan Artis dan Seniman  Sunda (GaSs) siap tidak dibayar untuk meramaikan HUT Bandung ke-200.  Mereka, akan tampil non stop selama 15 jam dari pagi sampai ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bandung</strong> &#8211; 	Setidaknya 200 artis yang tergabung dalam Gabungan Artis dan Seniman  Sunda (GaSs) siap tidak dibayar untuk meramaikan HUT Bandung ke-200.  Mereka, akan tampil non stop selama 15 jam dari pagi sampai malam dalam  acara yang bertajuk Kampung GaSS di Lapangan Gasibu Bandung, Rabu  (10/3/2010).<br />
<span id="more-153"></span><br />
Dalam jumpa pers di Hotel Grand Serela Jalan RE  Martadinata, Ketua Panitia Melly Goeslaw menyatakan ke-200 artis sudah  siap untuk mensukseskan acara tersebut sebagai bentuk kecintaan pada  Kota Bandung. &#8220;GaSS masih bayi baru dibentuk 15 Oktober 2009, tapi kita  punya semangat yang tinggi dan 100 persen siap untuk mensukseskan  Kampung GaSS,&#8221; ujar Melly, Rabu (3/3/2010).</p>
<p>GaSS yang merupakan  gabungan dari artis asal Bandung yang bermukim di Jakarta dan juga  Bandung ini sudah mempersiapkan gelaran Kampung GaSS selama tiga bulan  terakhir. Nantinya secara bergiliran, artis-artis dari berbagai aliran  seni ini akan unjuk karya.</p>
<p>Antara lain grup band Gigi, The  Titans, Kahitna, ST 12, Vina Panduwinata, Melly Goeslaw, The  Changcuters, Burgerkill, Mocca, Rossa, D&#8217;Cinnamon, Aming, Ira Maya  Sopha, PAS Band dan ditutup dengan gelaran wayang golek dari &#8220;Pojok si  Cepot&#8221;.</p>
<p>Acara digelar di hari Rabu menurut Melly karena 200 artis  yang tampil tidak dibayar. &#8220;Lahan pekerjaan mereka akhir pekan, mereka  tidak keberatan tanpa dibayar kalau di weekdays,&#8221; tutur Melly. Tadinya,  lanjut Melly, jika tidak dibatasi, akan lebih dari 200 artis yang juga  ingin dilibatkan.</p>
<p>Sementara itu Wawan Juanda dari even organizer  Republic of Entertainment sebagai pelaksana menyatakan dalam Kampung  GaSS akan ada juga Kampung Radio yang terdiri dari pawai 16 OB Van Radio  di Bandung, lalu Kampung Distro yang melibatkan 20 distro di Bandung  dan Kampung Kuliner.</p>
<p>Setiap artis, menurut Wawan, akan tampil  selama 10 menit di atas dua panggung yang akan ada di panggung Kampung  GaSS. Selanjutnya secara bergilir mereka akan juag diinterview di setiap  radio yang jadi media partner di Kampung GaSS.</p>
<p>&#8220;Dari Jalan  Diponegoro sampai Cilamaya lalu Jalan Diponegoro Ke Jalan Sentot  Alibasya akan ditutup dari pukul 06.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB,&#8221;  tambah Wawan.</p>
<p>Dalam kesempatan yang sama, Wali Kota Dada Rosada  tidak menyangka akan ada paguyuban yang berisi artis dan seniman yang  berasal dari Sunda. Hal ini, gayung bersambut dengan keinginan untuk  mewujudkan Bandung sebagai kota seni dan budaya.</p>
<p><a href="http://bandung.detik.com/read/2010/03/03/185043/1310602/486/sambut-200-tahun-bandung-200-artis-siap-tidak-dibayar" target="_blank">Sumber Berita</a></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Fnews%2Fsambut-200-tahun-bandung-200-artis-siap-tidak-dibayar.html&amp;t=Sambut%20200%20Tahun%20Bandung%2C%20200%20Artis%20Siap%20Tidak%20Dibayar" id="facebook_share_both_153" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_153') || document.getElementById('facebook_share_icon_153') || document.getElementById('facebook_share_both_153') || document.getElementById('facebook_share_button_153');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_153') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/news/sambut-200-tahun-bandung-200-artis-siap-tidak-dibayar.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Braga Festival 2009</title>
		<link>http://www.pasundan.info/news/braga-festival-2009.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/news/braga-festival-2009.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 09:30:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Braga Festival 2009 yang mengusung tema &#8216;Wujud Cinta Braga Kreatif&#8217; akan menjadi ajang reuni para seniman Braga, serta unjuk kabisa para seniman musik Bandung dari berbagai aliran.
Chief Programmer Braga Festival Diro Aritonang mengatakan akan ada ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Braga Festival 2009 yang mengusung tema &#8216;Wujud Cinta Braga Kreatif&#8217; akan menjadi ajang reuni para seniman Braga, serta unjuk kabisa para seniman musik Bandung dari berbagai aliran.</p>
<p>Chief Programmer Braga Festival Diro Aritonang mengatakan akan ada dua pagelaran besar dalam Braga Festival 2009 yaitu reuni seniman Braga di Gedung YPK dan konser musik.</p>
<p>&#8220;Dengan wujud Braga kreatif kita mampu menggambarkan potensi warga Bandung. Ada banyak pagelaran seni dan budaya di sini, juga akan ada reuni seniman,&#8221; ujarnya dalam jumpa pers di Braga Cafe, Jalan Braga, Rabu (16/12/2009).</p>
<p>Para seniman senior yang dipastikan akan hadir pada saat pembukaan adalah pencipta tari jaipong Gugum Gumbira serta Nano S, pengarang lagu Braga. Tak hanya mereka, Doel Sumbang pun dipastikan hadir.</p>
<p>Untuk konser musik yang akan digelar, menurut Diro, akan menampilkan berbagai aliran musik mulai dari pop, rock, rock&#8217;n roll, jazz, alternatif, hingga indie.</p>
<p>Lebih lanjut dia menambahkan selama lima hari, Jalan Braga akan ditutup mulai dari pertigaan Braga-Asia Afrika, Tamblong, dan Suniaraja. &#8220;Pintu utamanya dari Jalan Tamblong,&#8221; katanya.</p>
<p>Bagi pengunjung, ujar Diro, diminta untuk mengenakan dress code jadul atau vintage. &#8220;Bisa seperti none Belanja jaman dulu atau berpakaian orang Sunda jaman dulu,&#8221; katanya.</p>
<p>&lt;sumber : <a href="http://bandung.detik.com/read/2009/12/16/151726/1261270/486/braga-festival-2009-ajang-reuni-seniman" target="_blank">Detik Bandung</a>&gt;</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Fnews%2Fbraga-festival-2009.html&amp;t=Braga%20Festival%202009" id="facebook_share_both_146" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_146') || document.getElementById('facebook_share_icon_146') || document.getElementById('facebook_share_both_146') || document.getElementById('facebook_share_button_146');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_146') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/news/braga-festival-2009.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Gunung Burangrang</title>
		<link>http://www.pasundan.info/travel/gunung-burangrang.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/travel/gunung-burangrang.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 28 Feb 2009 04:00:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[Geografi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=137</guid>
		<description><![CDATA[UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>UDARA dingin di Desa Kertawangi terasa begitu menusuk sumsum. Nyanyian burung-burung di pagi hari terasa begitu indah dan harmonis. Puncak Gunung Burangrang masih tertidur diselimuti kabut putih yang menawan. Tampaknya sinar matahari pagi masih enggan memancarkan sinarnya seakan-akan masih terbuai dalam tidurnya.<br />
<span id="more-137"></span>Wisata alam Gunung Burangrang yang terletak di Desa Kertawangi Kecamatan Cisarua Kabupaten Bandung, tidak pernah sepi dari para wisatawan petualang yang ingin menikmati keindahannya dengan berbagai pesona alam dan misterinya.<br />
Untuk mencapai Gunung Burangrang dapat ditempuh dari berbagai jalur pendakian, misalnya melewati Desa Kertawangi, dari arah Bandung menuju Cihanjuang dengan ongkos Rp 2.000,00.<br />
Kemudian dari Cihanjuang dilanjutkan dengan angkutan mobil Colt warna ungu menuju Parongpong seharga Rp 2.500,00 atau bisa diborong sampai dengan Gerbang Komando seharga Rp 4.000,00 per orang. Dari Pos Komando, kita akan menemukan jalan berbatu sampai Gerbang Militer Kopassus, dari sana belok ke kiri, jangan masuk ke gerbang Militer karena bila masuk akan menuju Situ Lembang, Gunung Sunda, dan Gunung Tangkuban Parahu.<br />
Sepanjang jalan menuju pintu gerbang Situ Lembang akan melewati bukit-bukit yang indah dan cukup menguras tenaga. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang, kebanyakan bertani sayuran dan berternak sapi. Mereka sangat ramah seperti orang-orang Sunda pada umumnya jika menyambut tamu. Jika naik dari Cihanjuang, sepanjang jalan yang dilewati akan dijumpai vila-vila dan perumahan yang indah serta wahana wisata Curug Cimahi yang berada di kaki Gunung Burangrang.<br />
Ada pula cara lain, misalnya berangkat dari Bandung menuju Subang dengan kendaraan bis atau mobil Elf, lalu turun di gerbang Tangkubanparahu yang merupakan objek wisata alam yang cukup terkenal di Jawa Barat. Dari Puncak Gunung Tangkubanparahu, kita menuruni tower Tangkubanparahu menuju Gunung Burangrang dengan terlebih dahulu akan melewati kawah Upas, Domas, Ratu, dan Jurig yang cukup menawan di kawasan Tangkubanparahu.<br />
Saat kami berada di puncak Gunung Burangrang, lambat laun matahari mulai bangkit dari peraduannya dan perlahan-lahan menerangi Desa Kertawangi, sehingga menjadi terang dan cerah. Desa Kertawangi merupakan titik awal pendakian menuju puncak Gunung Burangrang. Walaupun gunung itu tidak terlalu tinggi, kawasan hutan Gunung Burangrang memiliki jenis flora dan fauna yang bervariasi. Kelebatan hutannya pun masih terjaga dengan baik sehingga menarik bagi para petualang alam bebas.<br />
Di samping keindahan alamnya, di kawasan Gunung Burangrang terdapat danau yang cukup besar dan indah bernama Situ Lembang. Situ ini jika terkena sinar matahari akan memantulkan warna pelangi yang memesona. Masyarakat yang tinggal di kaki Gunung Burangrang memanfaatkan situ (danau) ini untuk memancing, karena di Situ Lembang terdapat berbagai jenis ikan untuk dikonsumsi.<br />
Tepat pukul 8.00 WIB memulai melakukan pendakian dengan tidak lupa mengisi persediaan air yang cukup, karena sumber air di atas sana sulit dijumpai selama perjalanan pendakian. Dengan diiringi doa, kami mulai berangkat menuju puncak Gunung Burangrang.<br />
Suara harmoni burung-burung berkicau masih terdengar saling bersahutan melepas kepergian kami menuju puncak.<br />
Sepanjang jalan pendakian masih didominasi pohon-pohon pinus. Kami melewati bukit-bukit yang menguras banyak tenaga. Sejenak kami beristirahat menghirup udara segar alam Burangrang. Sekali-kali cahaya langit mengintip di balik daun-daun dalam kelebatan hutannya.<br />
Puncak Burangrang dapat ditempuh kurang lebih empat jam pendakian dari Desa Kertawangi. Bila telah tiba di puncak, ada rasa damai, tenteram, serta bahagia, yang seolah-olah menyatu dalam batin. Dari puncak Gunung Burangrang pemandangannya menakjubkan dan tampak awan putih menyelimuti gunung-gunung di sekitarnya. Terlihat pula dengan jelas dari kejauhan Gunung Tangkubanparahu nan elok.<br />
Pemandangan yang tidak kalah menariknya adalah hamparan sawah dan rumah-rumah di sekitar Cisarua serta Situ Lembang yang terlihat begitu indah dan menawan. Matahari naik semakin tinggi. Waktu telah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Kami memutuskan untuk turun kembali menuju Desa Kertawangi yang merupakan titik awal pendakian. (Imam Syarifuddin)***</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Ftravel%2Fgunung-burangrang.html&amp;t=Gunung%20Burangrang" id="facebook_share_both_137" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_137') || document.getElementById('facebook_share_icon_137') || document.getElementById('facebook_share_both_137') || document.getElementById('facebook_share_button_137');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_137') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/travel/gunung-burangrang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kujang</title>
		<link>http://www.pasundan.info/featured/kujang.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/featured/kujang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Jan 2009 15:25:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Seni & Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[Budaya]]></category>
		<category><![CDATA[seni]]></category>
		<category><![CDATA[tradisional]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=130</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beretnis Sunda memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Masyarakat Jawa Barat yang mayoritas beretnis Sunda memiliki lambang daerah berupa gambar yang di tengahnya menampilkan senjata tradisional yang disebut kujang. Kujang adalah senjata tradisional berupa senjata tajam yang bentuknya menyerupai keris, parang, dengan bentuk unik berupa tonjolan pada bagian pangkalnya, bergerigi pada salah satu sisi di bagian tengahnya dan bentuk lengkungan pada bagian ujungnya. Bagi masyarakat Sunda, kujang lebih umum dibandingkan dengan keris.<br />
<span id="more-130"></span></p>
<p>Kujang tidak hanya dipakai untuk lambang daerah tapi juga dipakai untuk nama perusahaan (Pupuk Kujang, Semen Kujang), nama kampung (Parungkujang, Cikujang, Kujangsari, Parakankujang), nama batalion (Batalyon Kujang pada Kodam III/Siliwangi), nama tugu peringatan (Tugu Kujang di Bogor, Tugu Kujang Bale Endah), dan lain-lain.<br />
Popularitas kujang bagi masyarakat etnis Sunda sudah tidak disangsikan lagi. Akan tetapi, ironisnya, eksistensi kujang baik sebagai perkakas maupun sebagai pusaka mulai sirna. Kujang kini hanya berada di museum-museum dengan jumlah yang relatif sedikit dan dimiliki oleh para sesepuh atau budayawan yang masih mencintai kujang sebagai pusaka leluhurnya.<br />
Pada masyarakat etnis Sunda ada kelompok yang masih akrab dengan kujang dalam pranata kehidupan sehari-hari, yaitu masyarakat Sunda &#8220;Pancer Pangawinan&#8221; yang tersebar di Kecamatan Bayah Kabupaten Lebak, Kecamatan Cigudeg Kabupaten Bogor, di Kecamatan Cisolok Kabupaten Sukabumi, dan masyarakat Sunda Wiwitan Urang Kanekes (Baduy) di Kabupaten Lebak.<br />
Kujang (Kujang Pamangkas) dalam lingkungan budaya mereka masih digunakan untuk upacara nyacar (menebang pohon untuk lahan huma) setahun sekali. Sebagai patokan pelaksanaan nyacar tersirat dalam ungkapan unggah kidang turun kujang yang artinya jika bintang kidang (orion) muncul di ufuk timur waktu subuh, pertanda waktu nyacar telah tiba dan kujang digunakan sebagai pembuka kegiatan perladangan.<br />
Bukti keberadaan kujang diperoleh dari naskah kuno di antaranya Serat Manik Maya dengan istilah kudi, Sanghyang Siksakandang Karesian dengan istilah kujang, dan dari berita pantun Pajajaran Tengah (Pantun Bogor).</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/kujangc08.jpg" rel="lightbox[130]"><img class="alignnone size-medium wp-image-133" title="kujangc08" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/kujangc08-271x300.jpg" alt="kujangc08" width="271" height="300" /></a><br />
Kujang adalah pusaka tradisi Sunda, sejarah yang menceritakan awal keberadaannya masih belum terungkap. Kalau saja Kerajaan Salakanagara yang merupakan kerajaan tertua di Jawa sebagai cikal bakal lahirnya kujang, diyakini keberadaan kujang sudah sangat tua. Alasan tersebut diperkuat bahwa apabila kujang yang diperkirakan sebagai alat perladangan atau pertanian maka Kerajaan Tarumanegara pada abad IV sudah mampu menata sistem pertanian secara baik dengan dibangunnya sistem irigasi untuk perladangan dan pertanian, mungkin kujang sudah hadir dalam konteks perkakas perladangan atau perkakas pertanian dalam pranata sosial budaya masyarakat pada saat itu. Kujang diakui keberadaannya sebagai senjata khas masyarakat etnis Sunda. Kujang merupakan warisan budaya Sunda pramodern.<br />
Kujang merupakan senjata, ajimat, perkakas, atau benda multifungsi lainnya yang memiliki berbagai ragam bentuk yang menarik secara visual. Kujang dengan keragaman bentuk gaya dengan variasi-variasi struktur papatuk, waruga, mata, siih, pamor, dan sebagainya sangat artistik dan menarik untuk dicermati karena struktur bentuk tersebut belum tentu ada dalam senjata lainnya di nusantara. Kujang sebagai senjata yang memiliki keunggulan visual tadi sekaligus mengundang pertanyaan apakah dalam struktur estetik kujang tadi memiliki makna dan simbol? Berbagai pendapat dari berbagai tokoh masyarakat mengarah ke sana.<br />
Kujang koleksi Sumedang<br />
Sejarah kerajaan yang tumbuh di Sumedang pada masa lalu erat kaitannya dengan Kerajaan Pajajaran. Koleksi kujang Pajajaran yang dimiliki Museum Prabu Geusan Ulun relatif banyak bahkan mungkin paling banyak jika dibandingkan dengan museum-museum yang ada di Jawa Barat atau Indonesia sekalipun. Kujang-kujang tersebut beragam varian Kujang Ciung, beragam varian Kujang Naga, Kujang Kuntul, Kujang Pamangkas, Kujang Wayang, dan sebagainya.<br />
Kujang-kujang yang tersimpan cukup terpelihara dengan baik di mana fisik waruga, pamor, siih, dan mata kujang masih banyak yang utuh. Bahkan, persepsi dari kebanyakan masyarakat bahwa semua kujang berlubang terbantahkan dengan masih adanya beberapa koleksi kujang di museum ini yang masih memiliki penutup lobang atau penutup mata. Mungkin hilangnya penutup lobang karena penutup lobang terbuat dari bahan-bahan yang bernilai seperti logam-logam mulia, permata, dan sejenisnya. Hilangnya pun mungkin diambil atau jatuh akibat dari ceruk lubangnya yang korosif.<br />
Kujang merupakan produk budaya masyarakat peladang. Penamaannya cenderung pada makhluk-makhluk yang banyak hidup di daerah ladang seperti Kujang Ciung dari burung Ciung, Kujang Naga dari ular, Kujang Bangkong dari kodok, Kujang Kuntul dari burung kuntul. Bahkan, Kujang Wayang diperkirakan sebagai simbol untuk kesuburan.<br />
Tokoh wanita pada kujang wayang mengingatkan pada simbol-simbol kesuburan, misalnya patung purba Venus Willendorf di Eropa yang berbentuk manusia berperawakan subur sebagai simbolisasi kesuburan. Tokoh Dewi Sri dikenal sebagai dewi kesuburan. Mencermati secara fisik Kujang Wayang ini pun yang tidak memiliki sisi tajam di bagian tonggong dan beuteung yang mungkin sangat berbeda dengan kujang lainnya (kujang dua pangadekna/kujang memiliki dua sisi yang tajam) diperkirakan untuk kepentingan upacara yang erat kaitannya dengan kepentingan kesuburan.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/kujang_02.jpg" rel="lightbox[130]"><img class="alignnone size-medium wp-image-132" title="kujang_02" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/kujang_02-300x190.jpg" alt="kujang_02" width="300" height="190" /></a><br />
Kujang yang dikenal oleh masyarakat kita pada umumnya adalah Kujang Ciung. Pada lambang daerah, pada lambang perusahaan pupuk dan semen, pada lambang batalion, pada tugu-tugu dan lain-lain tampak jelas mengindikasi pada bentuk Kujang Ciung. Padahal, kujang memiliki beragam bentuk dan nama yang menyesuaikan bentuk tersebut. Beragam bentuk dan nama diperkirakan memiliki simbol yang dipakai dalam tatanan masa keemasan kujang yaitu masa kerajaan Sunda Pajajaran.<br />
Istilah kujang sendiri memiliki banyak penafsiran, salah satunya ada yang mengatakan bahwa kujang berasal dari kata kudi dan hyang yaitu kudi yang dianggap disucikan. Hal tersebut mengacu pada perkembangan senjata kudi yang banyak ditemukan di daerah Pulau Jawa dan Madura. (Suryadi Maskat, S.Pd., M.Sn., dosen Pendidikan Seni Rupa FPBS Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung)***</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Ffeatured%2Fkujang.html&amp;t=Kujang" id="facebook_share_both_130" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_130') || document.getElementById('facebook_share_icon_130') || document.getElementById('facebook_share_both_130') || document.getElementById('facebook_share_button_130');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_130') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/featured/kujang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>19</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Situ Bagendit</title>
		<link>http://www.pasundan.info/travel/situ-bagendit.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/travel/situ-bagendit.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Jan 2009 04:31:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Garut]]></category>
		<category><![CDATA[Wisata]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=123</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;TOLONGLAH Nyai, berilah hamba sedikit makanan,&#8221; ujar pengemis itu mengiba.
Melihat pengemis tua berbaju kotor dan compang-camping masuk ke kenduri di rumahnya, Nyi Endit, janda kaya itu, bukannya merasa kasihan. Yang terusik justru sifat tamak, kikir, ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>&#8220;TOLONGLAH Nyai, berilah hamba sedikit makanan,&#8221; ujar pengemis itu mengiba.<br />
Melihat pengemis tua berbaju kotor dan compang-camping masuk ke kenduri di rumahnya, Nyi Endit, janda kaya itu, bukannya merasa kasihan. Yang terusik justru sifat tamak, kikir, dan sombong yang bersemayam dalam dirinya.</p>
<p><span id="more-123"></span>Dengan kasar, Nyi Endit mengusir pengemis tua itu dari hadapannya. &#8220;Hai pengemis tua, jangan kotori pestaku dengan rupamu yang buruk dan bajumu yang bau, enyahlah kau dari rumahku,&#8221; ucap Nyi Endit membentaknya.<br />
Dengan sedih dan gontai pengemis itu pergi. Keesokan harinya, masyarakat dibuat geger oleh kemunculan sebatang lidi yang tertancap di jalan desa. Semua orang berusaha mencabut lidi yang menghalangi aktivitas mereka. Akan tetapi, tak satu pun yang berhasil. Sampai akhirnya, muncul pengemis tua yang kemarin diusir oleh Nyi Endit. Dengan ringannya, ia mencabut lidi itu.<br />
Akan tetapi, dari lubang bekas lidi tertancap itulah menyembur air dengan derasnya. Kali ini semburan air itu tak bisa dicegah, terus membanjiri, menggenangi, dan menenggelamkan segala yang dilewatinya. Penduduk yang ketakutan, berlarian menyelamatkan diri, naik ke puncak-puncak bukit dan punggung gunung, tak peduli dengan harta benda milik mereka. Hanya Nyi Endit seorang, yang karena terlampau sayang kepada harta benda miliknya, enggan meninggalkan rumahnya. Ia akhirnya mati ditelan air yang kemudian mendanau.<br />
Bikin penasaran<br />
Kisah Nyi Endit, si janda kaya nan sombong, tamak, dan kikir yang tenggelam ditelan danau begitu melegenda. Kisah yang menjadi ending sekaligus inti dari legenda atau sasakala Situ Bagendit, danau kecil yang terletak di Kecamatan Banyuresmi, Kab. Garut itu, termasuk salah satu dongeng terpopuler di masyarakat Jawa Barat. Kisahnya tak hanya dijadikan kisah pengantar tidur bagi anak-anak, dibacakan di sekolah-sekolah, bahkan berkali-kali disinetronkan.<br />
Yang namanya legenda, tentu saja bersifat terbuka terhadap segala tafsir. Termasuk, terbuka juga terhadap kemungkinan orang percaya bahwa terbentuknya Situ Bagendit tak sekadar dongeng penuh siloka atau kisah berhikmah yang di dalamnya berisi nasihat, namun kisah itu true story alias kejadian nyata.<br />
Kenyataannya &#8211;seperti terhadap kebanyakan legenda yang ada&#8211; tak sedikit orang percaya bahwa Nyi Endit bukanlah tokoh fiksi hasil kreasi pujangga, melainkan sosok nyata yang pernah hidup di suatu zaman.<br />
Terlepas orang percaya atau tidak, yang pasti, kisah tragis Nyi Endit begitu menarik sehingga menjadi alasan bagi banyak orang dari berbagai daerah mau berkunjung ke Situ Bagendit. Paling tidak, orang mau datang karena dibuat penasaran terhadap situs atau &#8220;peninggalan&#8221; tokoh legenda bernama Nyi Endit.<br />
&#8220;Ya, namanya juga legenda Pak, pasti ceritanya bikinan orang zaman dulu dengan maksud tertentu. Tapi, kadang saya juga suka dibuat penasaran, jangan-jangan di tengah Situ Bagendit ini memang ada harta karun milik Nyi Endit. Kalau bisa sih, sekali-kali ada ekspedisi atau penelitian untuk membuktikan hal itu,&#8221; kata Asep, pemuda asal Tasikmalaya, sedikit berseloroh.<br />
Seperti Asep, ada ratusan orang setiap bulannya yang berkunjung ke Situ Bagendit. Danau yang diapit empat desa, yakni Banyuresmi (di utara), Cipicung (selatan), Binakarya (timur), dan Sukamukti (barat) itu rata-rata setiap bulannya dikunjungi 700 orang. Mereka datang bukan hanya dari Kab. Garut, melainkan juga dari Tasikmalaya, Sumedang, Ciamis, Banjar, Bandung, bahkan Bogor dan Jakarta.<br />
Umumnya, para wisatawan datang secara berkelompok, ada yang sekeluarga dengan satu mobil atau rombongan besar dengan beberapa bus. Ada juga yang menggunakan sepeda motor. &#8220;Biasanya Bagendit ramai pada hari Sabtu, Minggu, dan liburan. Yang pakai bus biasanya dari Jakarta,&#8221; kata Ny. Euis, pemilik warung apung di tengah Situ Bagendit.<br />
Harga tiket masuk ke kawasan objek wisata Situ Bagendit relatif murah, Rp 2.000,00 per orang. Di area rekreasi, pengelola memang tidak menyediakan jasa pelayanan rekreasi mencari harta karun Nyi Endit. Jika pun ada, harta karun yang bisa dinikmati wisatawan adalah pemandangan alam nan elok dipandang mata, danau dengan latar belakang gunung dan bukit menjulang. Pemandangan itulah yang biasanya membetot rasa penasaran pengunjung untuk berlayar ke tengah danau menggunakan rakit bambu.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/104_5309_ed.jpg" rel="lightbox[123]"><img class="alignnone size-medium wp-image-125" title="104_5309_ed" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/104_5309_ed-300x225.jpg" alt="104_5309_ed" width="300" height="225" /></a><br />
Untuk bisa menikmati pelayaran dengan rakit bambu yang berkapasitas 10 orang itu, pengunjung harus membayar Rp 30.000,00. Dengan durasi 30 menit, rakit itu membawa wisatawan berlayar ke tengah danau sambil menikmati cipratan air dan embusan udara dari pegunungan yang menyegarkan. &#8220;Nahkoda&#8221; rakit kemudian menambatkan rakitnya di warung apung di tengah danau yang menyediakan segala rupa makanan dan minuman.</p>
<p><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/104_5313_ed.jpg" rel="lightbox[123]"><img class="alignnone size-medium wp-image-126" title="104_5313_ed" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/104_5313_ed-225x300.jpg" alt="104_5313_ed" width="225" height="300" /></a><br />
Di warung inilah, wisawatan &#8220;disuruh&#8221; istirahat sejenak, menikmati kopi panas, segarnya air dawegan (kelapa muda), atau semangkuk mi rebus. Setelah puas, biasanya wisawatan ditawari berlayar ke ujung danau, di dekat gunung yang menjulang, tetapi tentu saja harus membayar lagi Rp 30.000,00. Jika tak bersedia, sang nahkoda rakit akan membawa wisatawan kembali ke pangkalan, menurunkan wisatawan, untuk kemudian membawa wisatawan lain berlayar ke tengah danau. Begitu seterusnya aktivitas yang dilakukan oleh sekitar 60 pengelola rakit yang ada di Situ Bagendit.<br />
Tak hanya berlayar dengan rakit, wisatawan juga bisa menikmati rekreasi dengan menyewa sepeda air atau angsa dengan tarif Rp 10.000,00 selama 15 menit. Sementara di darat, di sisi danau, wisatawan bisa menikmati perjalanan dengan naik kereta api mini dengan tarif Rp 2.000,00. Sayangnya, rekreasi naik kereta api mini itu sangat membosankan karena hanya berputar-putar di area yang mudah dijangkau dengan jalan kaki. Padahal, jika rutenya dibuat khusus, mungkin akan lebih menarik.<br />
<a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/keretaapi6ie.jpg" rel="lightbox[123]"><img class="alignnone size-medium wp-image-127" title="keretaapi6ie" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/keretaapi6ie-300x225.jpg" alt="keretaapi6ie" width="300" height="225" /></a></p>
<p>Dilihat dari kondisi alamnya, sebenarnya Situ Bagendit sangat potensial menjadi objek wisata unggulan. Bentang alamnya sangat memukau setiap orang yang memandangnya. Itulah barangkali, harta karun sebenarnya yang ditinggalkan Nyi Endit.<br />
Sayangnya, kondisi Situ Bagendit masih sangat memprihatinkan. Bukan saja fasilitas rekreasi seperti rakit bambu yang rata-rata sudah berusia tua, melainkan juga kondisi air danau yang dibiarkan kotor dan dipenuhi oleh eceng gondok. Sering kali, pelayaran menggunakan rakit atau sepeda air harus bertabrakan dengan onggokan eceng gondok yang mengapung dan menutupi permukaan air danau. Tentunya, ini adalah pekerjaan rumah yang harus dibenahi oleh pengelola Situ Bagendit. (Muhtar I.T./&#8221;PR&#8221;)***</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Ftravel%2Fsitu-bagendit.html&amp;t=Situ%20Bagendit" id="facebook_share_both_123" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_123') || document.getElementById('facebook_share_icon_123') || document.getElementById('facebook_share_both_123') || document.getElementById('facebook_share_button_123');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_123') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/travel/situ-bagendit.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ciung Wanara</title>
		<link>http://www.pasundan.info/legend/ciung-wanara.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/legend/ciung-wanara.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 12 Jan 2009 04:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Cerita & Legenda]]></category>
		<category><![CDATA[Ciamis]]></category>
		<category><![CDATA[legenda]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas. Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung
Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Prabu Barma Wijaya Kusuma memerintah kerajaan Galuh yang sangat luas. Permaisurinya 2 orang. Yang pertama bernama Pohaci Naganingrum dan yang kedua bernama Dewi Pangrenyep. Keduanya sedang mengandung</p>
<p>Pada bulan ke-9 Dewi Pangrenyep melahirkan seorang putra. Raja sangat bersuka cita dan sang putra diberi nama Hariang Banga.<br />
<span id="more-119"></span><a href="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/p1010990.jpg" rel="lightbox[119]"><img class="alignnone size-medium wp-image-120" title="p1010990" src="http://www.pasundan.info/wp-content/uploads/2009/01/p1010990-300x225.jpg" alt="p1010990" width="300" height="225" /></a><br />
Hariang Banga telah berusia 3 bulan, namun permaisuri Pohaci Naganingrum belum juga melahirkan. Khawatir kalau-kalau Pohaci melahirkan seorang putra yang nanti dapat merebut kasih sayang raja terhadap Hariang Banga, Dewi Pangrenyep bermaksud hendak mencelakakan putra Pohaci.</p>
<p>Setelah bulan ke-13 Pohaci pun melahirkan. Atas upaya Dewi Pangrenyep tak seorang dayang-dayang pun diperkenankan menolong Pohaci, melainkan Pangrenyep sendiri.</p>
<p>Dengan kelihaian Pangrenyep, putra Pohaci diganti dengan seekor anjing. Dikatakannya bahwa Pohaci telah melahirkan seekor anjing. Bayi Pohaci dimasukkannya dalam kandaga emas disertai telur ayam dan dihanyutkannya ke sungai Citandui.</p>
<p>Karena aib yang ditimbulkan Pohaci Naganingrum yang telah melahirkan seekor anjing, raja sangat murka dan menyuruh Si Lengser (pegawai istana) untuk membunuh Pohaci. Si Lengser tidak sampai hati melaksanakan perintah raja terhadap Pohaci, permaisuri junjungannya. Pohaci diantarkannya ke desa tempat kelahirannya, namun dilaporkannya telah dibunuh.</p>
<p>Adalah seorang Aki bersama istrinya, Nini Balangantrang, tinggal di desa Geger Sunten tanpa bertetangga. Sudah lama mereka menikah, tetapi belum dikarunia anak. Suatu malam Nini bermimpi kejatuhan bulan purnama. Mimpi itu diceritakannya kepada suami dan sang suami mengetahui takbir mimpi itu, bahwa mereka akan mendapat rezeki. Malam itu juga Aki pergi ke sungai membawa jala untuk menangkap ikan.</p>
<p>Betapa terkejut dan gembira ia mendapatkan kandaga emas yang berisi bayi beserta telur ayam, Mereka asuh bayi itu dengan sabar dan penuh kasih sayang. Telur ayam itu pun mereka tetaskan, mereka memeliharanya hingga menjadi seekor ayam jantan yang ajaib dan perkasa. Anak angkat ini mereka beri nama Ciung Wanara.</p>
<p>Setelah besar bertanyalah Ciung Wanara kepada ayah dan ibu angkatnya. Terus terang Aki dan Nini menceritakan tentang asal-usul Ciung Wanara. Setelah mendengar cerita ayah dan ibu angkatnya, tahulah Ciung Wanara akan dirinya.</p>
<p>Suatu hari Ciung Wanara pamit untuk menyabung ayamnya dengan ayam raja, karena didengarnya raja gemar menyabung ayam. Taruhannya ialah, bila ayam Ciung Wanara kalah ia rela mengorbankan nyawanya. Tetapi bila ayam raja kalah, raja harus bersedia mengangkatnya menjadi putra mahkota. Raja menerima dengan gembira tawaran tersebut.</p>
<p>Sebelum ayam berlaga, ayam Ciung Wanara berkokok dengan anehnya, melukiskan peristiwa benahun-tahun yang lampau tentang permaisuri yang dihukum mati dan kandaga emas yang berisi bayi yang dihanyutkan. Raja tidak menyadari hal itu, tetapi sebaliknya Si Lengser sangat terkesan akan hal itu.Bahkan ia menyadari sekarang Ciung Wanara yang ada di hadapannya adalah putra raja sendiri.</p>
<p>Setelah persabungan, ayam baginda kalah dan ayam Ciung Wanara menang. Raja menepati janji dan Ciung Wanara diangkat menjadi putra mahkota. Dalam pesta pengangkatan putra mahkota, raja membagi 2 kerajaan untuk Ciung Wanara dan Hariang Banga. Selesai pesta pengangkatan putra mahkota Si Lengser bercerita kepada raja tentang hal yang sesungguhnya mengenai permaisuri Pohaci Naganingrum dan Ciung Wanara.</p>
<p>Mendengar cerita itii raja memerintahkan pengawal agar Dewi Pehgrenyep ditangkap. Akibatnya timbul perkelahian antara Hariang Banga dengan Ciung Wanara. Tubuh Hariang Banga dilemparkan ke seberang sungai Cipamali yang sedang banjir besar. Sejak itulah kerajaan Galuh dibagi menjadi 2 bagian dengan batas sungai Cipamali. Di bagian barat diperintah oleh Hariang Banga. Orang-orangnya menyenangi kecapi dan menyenangi pantun. Sedangkan bagian timur diperintah oleh Ciung Wanara. Orang-orangnya menyenangi wayang kulit dan tembang. Kegemaran penduduk akan kesenian tersebut masih jelas dirasakan sampai sekarang.</p>
<p>Sumber  <a href="http://goesprih.blogspot.com/2008/04/sage-ciung-wanara_11.html">Sage Ciung Wanara</a></p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Flegend%2Fciung-wanara.html&amp;t=Ciung%20Wanara" id="facebook_share_both_119" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_119') || document.getElementById('facebook_share_icon_119') || document.getElementById('facebook_share_both_119') || document.getElementById('facebook_share_button_119');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_119') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/legend/ciung-wanara.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>17</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bandung Trend Setter Seni Makanan Keju</title>
		<link>http://www.pasundan.info/news/bandung-trend-setter-seni-makanan-keju.html</link>
		<comments>http://www.pasundan.info/news/bandung-trend-setter-seni-makanan-keju.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 Jan 2009 05:15:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>
		<category><![CDATA[bandung]]></category>
		<category><![CDATA[Kuliner]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.pasundan.info/?p=116</guid>
		<description><![CDATA[Bandung &#8211; Ratusan orang berbondong-bondong mendatangi Lapangan Gasibu di Jalan Diponegoro, Bandung, Sabtu (10/1/2009). Lapangan yang biasa digunakan untuk berolahraga hari ini disulap menjadi lautan keju. Beragam sajian ditampilkan dengan taburan keju, dari mulai comro ...]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Bandung</strong> &#8211; Ratusan orang berbondong-bondong mendatangi Lapangan Gasibu di Jalan Diponegoro, Bandung, Sabtu (10/1/2009). Lapangan yang biasa digunakan untuk berolahraga hari ini disulap menjadi lautan keju. Beragam sajian ditampilkan dengan taburan keju, dari mulai comro sampai dengan burger keju.</p>
<p><span id="more-116"></span>Gelaran yang kedua kalinya diselenggarakan oleh PT Kraft Foods Indonesia dengan tema &#8220;Serbu! Serba Kejumooo Bandung&#8221; ini menampilkan berbagai aneka makanan berkeju dari mulai kelas jajanan sampai dengan atas.</p>
<p>Marketing Director PT KFI Ashvin Subramanyam dalam siaran persnya mengatakan, penggunaan keju telah menjadi bagian penting dari perkembangan seni kuliner di<br />
Bandung yang didorong oleh pengaruh budaya Belanda di era kolonial dan juga kreativitas para penyedia makanan sendiri.</p>
<p>&#8220;Pengaruh budaya Belanda yang cukup kuat ditambah kreativitas para penyedia makanan telah membuktikan keluwesan penggunaan keju dalam aneka ragam makanan,&#8221; kata Ashvin.</p>
<p>Bahkan, imbuhnya, mampu menghasilkan seni kuliner yang menjadi trend setter bagi kota-kota lainnya. Dirinya mencontohkan surabi, bakso keju, sampai dengan bakpau keju.</p>
<p>Dalam gelaran yang berlangsung hanya sehari ini, sekitar 40 stand jajanan turut meramaikan gelaran &#8220;Serbu! Serba Kejumooo Bandung&#8221; penjaja makanan yang menjadikan keju sebagai bagian dalam sajiannya. Bukan hanya burger yang dilapisi keju, namun comro dan juga serabi tabur keju turut hadir dalam gelaran tersebut.</p>
<p>Selain itu, gelaran ini pun adalah untuk menguatkan pandangan bahwa perilaku masyarakat Bandung terhitung inovatif dalam melakukan hal-hal yang berbeda dan unik, sehingga menjadi kunci kemajuan seni kuliner Bandung.</p>
<a href="http://www.facebook.com/share.php?u=http%3A%2F%2Fwww.pasundan.info%2Fnews%2Fbandung-trend-setter-seni-makanan-keju.html&amp;t=Bandung%20Trend%20Setter%20Seni%20Makanan%20Keju%20" id="facebook_share_both_116" style="font-size:11px; line-height:13px; font-family:'lucida grande',tahoma,verdana,arial,sans-serif; text-decoration:none; padding:2px 0 0 20px; height:16px; background:url(http://b.static.ak.fbcdn.net/images/share/facebook_share_icon.gif) no-repeat top left;">Share on Facebook</a>
	<script type="text/javascript">
	<!--
	var button = document.getElementById('facebook_share_link_116') || document.getElementById('facebook_share_icon_116') || document.getElementById('facebook_share_both_116') || document.getElementById('facebook_share_button_116');
	if (button) {
		button.onclick = function(e) {
			var url = this.href.replace(/share\.php/, 'sharer.php');
			window.open(url,'sharer','toolbar=0,status=0,width=626,height=436');
			return false;
		}
	
		if (button.id === 'facebook_share_button_116') {
			button.onmouseover = function(){
				this.style.color='#fff';
				this.style.borderColor = '#295582';
				this.style.backgroundColor = '#3b5998';
			}
			button.onmouseout = function(){
				this.style.color = '#3b5998';
				this.style.borderColor = '#d8dfea';
				this.style.backgroundColor = '#fff';
			}
		}
	}
	-->
	</script>
	]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.pasundan.info/news/bandung-trend-setter-seni-makanan-keju.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

